Dapur yang tumbuh dari jalur dagang
Julukan "Kota Lumpia" hanyalah satu jejak dari sejarah panjang kuliner Semarang. Sejak abad ke-19, kota pesisir ini menjadi persinggahan pedagang Tionghoa yang membawa teknik menggoreng dan mengukus, berbaur dengan bumbu rempah Jawa dan sentuhan Eropa dari masa kolonial.
Ciri khasnya: bumbu yang cenderung sederhana namun tajam rasanya, banyak disajikan hangat, dan tak jarang berpadu dengan sambal atau petis kental — cocok dengan iklim pesisir yang panas.
"Setiap suapan lumpia atau semangkuk soto di Semarang membawa cerita tiga budaya yang pernah berlabuh di kotanya."